Categories
Berita Semasa

Gaza Memasuki Tahun Ketiga Tanpa Haji.

Selasa, 19/05/2026 – Beberapa tahun lalu, jalan-jalan di Semenanjung Gaza sering menyambut musim Haji dan Idul Adha dengan suasana yang penuh keceriaan. Pasar-pasar dipenuhi warga, suara pedagang terdengar bersahutan di pasar ternak, sementara anak-anak bermain riang di keliling kambing yang dihias menjelang hari raya. Sanak saudara berkumpul meraikan keberangkatan para calon haji dan mempersiapkan penyambutan mereka ketika kembali dari Tanah Suci.

Ketika bertahun-tahun pengepungan yang mencekik, suasana Idul Adha menjadi salah satu momen bersejarah yang mampu menghadirkan kebahagiaan bagi warga Gaza. Namun, semua itu kini hanya tinggal kenangan.

Untuk tahun ketiga berturut-turut, Semenanjung Gaza yang luluh lantak akibat perang, pelarian dan krisis kemanusiaan, kembali menjalani musim haji dan Idul Adha tanpa sukacita. Ritual ibadah kurban yang selama ini identik dengan solidariti, kebersamaan dan penghambaan kepada Tuhan, berubah menjadi simbol kehilangan dan ketidakberdayaan.

Di sebuah khemah pelarian, Abu Alaa, ayah dari dua syuhada, duduk memandang foto-foto lama keluarganya ketika Idul Adha beberapa tahun lalu. Dengan mata berkaca-kaca, beliau mengenang bagaimana anak-anaknya dahulu menyambut hari raya dengan penuh kegembiraan.

“Dulu kami selalu menunggu Idul Adha dengan gembira. Anak-anak bermain di sekitar haiwan korban beberapa hari sebelum penyembelihan dan seluruh keluarga berkumpul bersama. Tetapi sekarang tidak ada rumah, tidak ada haiwan korban, bahkan membeli satu kilogram daging pun kami tidak mampu,” ujarnya sedih kepada wartawan Pusat Informasi Palestina.

Beliau menambah bahawa gema takbir yang dahulu terdengar di setiap lorong kini nyaris menghilang, digantikan dengan suara pesawat tempur, ledakan bom dan ratapan keluarga yang kehilangan orang tercinta.

“Dulu suara takbir bergema di mana-mana. Sekarang hati dipenuhi rasa takut, kelaparan dan kehilangan,” katanya.

Kesedihan serupa dirasakan Umm Muhammad, seorang wanita pelarian yang kehilangan rumahnya di Kota Gaza. Baginya, penderitaan terbesar bukan hanya kehilangan tempat tinggal, melainkan ketidakmampuan menghadirkan suasana Idul Adha bagi anak-anaknya.

Beliau mengaku terus dihantui pertanyaan putaranya yang masih kecil mengenai alasan keluarga mereka tidak membeli haiwan korban seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Anak saya terus bertanya bila kami membeli kambing untuk Idul Adha. Saya tidak tahu perlu jawab apa. Bahkan jika ada haiwan ternak pun, kami tetap tidak mampu membelinya,” ujarnya dengan nada sedih.

Sebelum perang berkecamuk, masyarakat Gaza tetap mempertahankan tradisi korban meskipun hidup di bawah sekatan dan tekanan ekonomi yang berat. Banyak keluarga menabung selama berbulan-bulan demi untuk membeli seekor kambing atau lembu untuk disembelih ketika Idul Adha.

Penterjemah : Dr Osman